Senin, 20 Januari 2014

Catatan Perjalanan Ibadah Umroh di Tanah Suci Mekah



Satu minggu sebelum saya berangkat ke tanah suci Makkah Al Mukharromah untuk menunaikan ibadah umrah, bayangan saya selalu tertuju pada sekitar Masjidil Kharam. Bayangan seperti itu selalu menyertai selama dalam perjalanan mulai dari tanah air hingga ke tanah suci Makkah Al Mukharromah. Ternyata benar, sebuah bangunan yang cukup luas dan bertingkat berdiri dengan begitu megahnya, Subhanalloh.

Saya berangkat ke tanah suci pada tanggal 17 Mei 2013 pukul 11.00 WIB lewat Bandara Soekarno-Hatta, bersama PT. Arminareka Perdana menggunakan pesawat Boing 747. Setelah mendarat di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah pada pukul 20.00 WIB atau pukul 16.00 waktu Arab Saudi, daerah pertama yang dituju adalah kota Makkah Al Mukharromah dan Juhfah dijadikan sebagai tempat untuk mengambil Miqat.
Setelah mandi besar dan sholat sunnat ihram, saya serombongan langsung tancap gas menuju Makkah Al Mukharromah, adapun niat umrahnya adalah “Labbaikallohumma umrotan” (Saya penuhi panggilan-Mu ya Alloh untuk melaksanakan umrah).
“Labbaikallahumma labbaik labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika laka”, adalah bacaan Talbiyah yang secara terus-menerus berkumandang antara Juhfah hingga Makkah Al Mukharromah. Disinilah para jama’ah mulai meneteskankan air mata, apalagi setelah memasuki lingkungan Masjidil Kharam isak tangis terus terdegar dimana-mana ketika jama’ah umrah asal Banjarnegara dan Purbalingga itu melakukan Tawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dan Sa’i di bukit Shafa ke bukit Marwa.
Umrah adalah satu kegiatan ibadah dalam agama Islam. Seperti dalam ibadah haji, umrah dilaksanakan dengan cara melakukan beberapa ritual ibadah di kota suci Makkah khususnya di Masjidil Kharam. Bedanya jika Umrah dapat dilaksanakan sewaktu-waktu dan hanya di Makkah, sedangkan Haji hanya dapat dilaksanakan pada beberapa waktu antara tanggal 8 hingga 12 Dzulhijjah serta dilaksanakan sampai ke luar kota Makkah.
Ketika pertama kali masuk kota Mekah, KH. Drs. D. Maksum dari Arminareka pusat menunjukkan jam dalam ukuran sangat besar kepada jama’ah. Jam dengan warna hijau itu terletak di puncak gedung pencakarlangit yang oleh masyarakat Indonesia sering juga disebut Zam-zam Tower.
Di dalam Masjiddil Kharam inilah saya bersama rombongan lainnya melakukan sujud syukur dengan dipandu oleh KH. Drs. D. Maksum. Sungguh sangat mengharukan bercampur bahagia bisa melihat secara langsung Ka’bah yang selama ini dijadikan sebagai kiblat bagi umat Islam ketika melaksanakan sholat lima waktu.
Meski sudah cukup luas, ternyata Masjidil Kharam saat ini sedang dilakukan renovasi khususnya di sekitar lantai dua. Sementara pada bagian atas sekitar Shafa-Marwa nampaknya sudah beberapa waktu dirombak habis hingga kelihatan sangat indah. Untuk menuju ke bukit Shafa-Marwa juga sudah menggunakan escalator. Perluasan ini nampaknya untuk menampung jama’ah haji dan umrah yang setiap tahun terus bertambah.
Kota Mekkah memang menjadi tujuan utama kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji dan umrah, kota ini merupakan kota kelahiran Nabi Muhammad, SAW. Makkah terletak sekitar 450 km sebelah selatan kota Madinah, atau sekitar 200 km sebelah timur laut dari kota Jeddah. Perkembangan kota Mekkah tidak terlepas dari keberadaan Nabi Ismail dan Hajar sebagai penduduk pertama di kota ini yang ditempatkan oleh Nabi Ibrahim atas perintah Allah, SWT.
Setelah empat hari lamanya di Makkah, rombongan meluncur ke Madinah. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di kota suci nomor dua itu adalah enam jam dan langsung istirahat di hotel Mubarok. Yaitu sebuah hotel yang terletak di kawasan ring dua, jadi masih sangat dekat untuk menuju ke masjid Nabawi.
Jika anda ada kemauan untuk menunaikan ibadah umrah, sebaiknya tanyakan terlebih dahulu kepada pihak penyelenggara, terletak di ring berapa hotel yang akan digunakan untuk menginap. Apabila dijawab di luar ring empat sudah dipastikan hotelnya akan jauh dari Masjid Nabawi.
Madinah, adalah kota suci nomor dua bagi umat Islam. Tempat ini sebenarnya tidak termasuk ke dalam ritual ibadah haji maupun umrah, namun jama’ah haji maupun jama’ah umrah dari seluruh dunia menyempatkan diri berkunjung ke kota yang letaknya sekitar 450 km dari Makkah untuk berziarah dan melaksanakan shalat di masjid Rasulullah, SAW yaitu masjid Nabawi.
Jika kita mau mengamati secara seksama, hotel-hotel di Madinah pada umumnya sama, baik tinggi maupun luasnya. Yang membedakan hanyalah manajemen pengelolaannya saja. Kebetulan saya beserta rombongan menginap di hotel berbintang di kawasan ring dua. Jadi soal makan dan minum tinggal semaunya, pokoknya puas deh karena lokasinya sangat dekat dengan masjidil Kharam maupun Masjid Nabawi.
Setelah matahari mulai menyinari bumi Madinah saya mencoba keluar dari hotel “Subhanalloh” betapa indahnya kota ini meski suhu pada saat itu mencapai 45ยบ. Pengendara mobil sangat santun terhadap para pejalan kaki. Jika ada satu orang saja yang sedang menyeberang jalan semua mobil pasti berhenti dan baru berjalan setelah penyeberang jalan sudah berada di trotoair.
Disana tidak ada speda motor, semuanya menggunakan mobil sedan, selama kami berada di tanah suci tidak menjumpai bengkel, adanya hanya bengkel untuk mengganti oli. Barangkali saja masyarakat disana sudah kaya-kaya sehingga tidak ada orang yang menjual jasa perbaikan mobil. Jika ada mobil yang rusak sedikit saja karena kecelakaan langsung di biarkan dan memilih membeli mobil yang lebih baru, ucap Arba’in pemandu rombongan kami.
Di Kota Madinah kami memperoleh kesempatan untuk mengikuti city tour. Obyek pertama adalah ziarah ke Makam Rasulullah yang kemudian dikenal dengan Raudhah, kalau menurut ingatan saya Raudhah berada di depan Masjid Nabawi. Ditempat ini Rasulullah, SAW dimakamkan bersama sahabatnya Abu Bakar dan Umar bin Khatab.
Pada kesempatan itu kami juga menyempatkan waktu untuk melihat makam Baqi’ yang merupakan tempat pemakaman istri dan anak-anak Rasulullah serta sahabat lainnya. Adapun pada hari-hari biasa, kami berusaha untuk memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi yang sangat indah itu.
Tempat-tempat bersejarah lainnya yang dikunjungi antara lain Jabal Nur dan Goa Hiro’ Jabal Tsur, Jabal Rahmah, Jabal Uhud, Padang Arafah, Masjid Quba, kebun Qurma serta tempat-tempat lain.
Jabal Nur dan Goa Hira terletak sekitar 6 km di sebelah utara Masjidil Kharam. Di puncaknya terdapat sebuah Goa yang dikenal dengan nama Goa Hira. Di tempat inilah Rasulullah, SAW.  Menerima wahyu pertama, yaitu surat Al ‘Alaq ayat 1 – 5.
Jabal Tsur, terletak lebih kurang 6 km sebelah selatan Masjidil Kharam. Di gunung inilah Nabi Muhammad, SAW dan Abu Bakar As-Siddiq bersembunyi dari kepungan orang Quraisy ketika hendak hijriah ke Madinah.  Jabal Rahmah, yaitu tempat bertemunya Nabi Adam As dan Hama setelah keduanya terpisah saat turun dari surge. Peristiwa pentingnya adalah tempat turunnya wahyu yang terakhir pada Nabi Muhammad, SAW yaitu Surat Al-Maidah ayat 3.
Jabal Uhud, letaknya kurang lebih 5 km dari kota Madinah. Menurut penjelasan dari pemandu rombongan, Di bukit inilah dahulu pernah terjadi perang dahsyat antara kaum muslimin menlawan kaum musrikin mekah. Dalam pertempuran tersebut gugur sebanyak 70 orang syuhada, diantaranya adalah Hamzah Bin Abdul Munthalib seorang paman dari Nabi Muhamad, SAW. Kecintaan Rasulullah, SAW kepada para syuhada Uhud, membuat beliau menziarahinya hampir setiap tahun. Karena itu Jabal Uhud menjadi salah satu tempat penting untuk di ziarahi.
Mengakhiri seluruh rangkaian perjalanan umrah, saya dan seluruh rombongan diajak mengelilingi kota Jeddah yang merupakan kota paling menonjol di wilayah Makah Al Mukharromah. Jedah juga dianggap sebagai pusat perekonomian dan wisata bagi kerajaan Arab Saudi dengan laut Merahnya yang merupakan kota terbesar kedua setelah Riyadh.
Demikian sekelumit catatan saya dari ibadah umrah di tanah suci Makkah Al Mukaharromah selama 12 hari pulang pergi. Semoga bermanfaat bagi yang belum sempat atau sebagai gambaran bagi yang ingin menunaikan ibadah umrah. (s.bag).